Postingan Populer
-
Kapanlagi.com - East Japan Railway Co. mengatakan Selasa, pihaknya akan melarang merokok di atas jalur kereta peluru Tohoku dan Joetsu Shink...
-
Sesudah sholat shubuh itu kami minum kopi, dengan goreng pisang dan ketan. Waktu yang sangat kurindukan selama ini. Terlihat mereka sudah tu...
-
“Human Trafficking” dalam Kaba “Bongsu Pinang Sibaribuik” Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo Kaba “Bongsu Pinang Sibaribuik” sebuah karya prosa...
-
Sastra dan Bahasa : Kritik Sastra Selasa, 10-Juni-2008 - oleh : Nensi Suherman Dibaca 2673 kali Menurut Andre Harjana kata kritik baru di gu...
-
Dari Siti Nurbaya, Sabai Nan Aluih, Dara Jingga, Pada Kehendak untuk “Memilih” Ditulis pada Desember 29, 2007 oleh Fadlillah Malin Sutan Kay...
Pengikut
Arsip Blog
Kamis, 12 Februari 2009
Dari Siti Nurbaya, Sabai Nan Aluih, Dara Jingga, Pada Kehendak untuk “Memilih”
Ditulis pada Desember 29, 2007 oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
03-fadlillah.jpgPada karya sastra, bukan hanya catatan sejarah dan sosiokultural, ditemukan jejak yang memungkinkan orang untuk menemukan pengertian tentang dirinya sebagai manusia. Ilmu sosial atau sejarah hanya sanggup menulis tentang perang dan peristiwa sebuah ekspedisi membawa dua orang putri untuk dipersembahkan kepada rajanya, atau seorang raja mengirim dua orang putri untuk dipersembah kepada seorang raja yang lain tanda persahabatan, sebagai sebuah misal, maka sejarah dan ilmu sosial tidak akan menulis tentang kesedihan dan persoalan kehilangan harga diri sebagai eksistensi, atau persoalan yang tersembunyi dari kepalsuan politik militer. Bagian inilah yang membedakannya karya sastra dengan tulisan sejarah atau antropolog, sastra lebih mempersoalkan hakekat kemanusiaan.
Sejarah, sosiologi, antropologi meletakan realitas pada posisi “dipilih”, yakni; jadi obyek, bukan “memilih”, jadi subyek. Adapun yang membedakan dengan sastra adalah kerena sastra meletakan realitas sebagai subyek, “memilih”. Ada hal asasi dari kehendak untuk memilih dari manusia yang dipertimbangkan, sedangkan sejarah, sosiologi, antropologi tidak akan melakukan itu, mereka dunia adalah dunia obyektif yang dingin. Mungkin inilah menyebabkan sastra lebih banyak meletakan realitas pada metafora.
Siti Nurbaya sebagai metafor, sama dengan Sabai Nan Aluih dan Dara Jingga, ketika akan “memilih” menerima atau tidak lamaran Datuk Maringgih. Siti Nurbaya mau berkorban untuk keselamatan ayahnya supaya jangan sampai sang ayah masuk penjara, maka “dia memilih” untuk menerima lamaran Datuk Maringgih. Bukan tidak mungkin posisi Dara Jingga “memilih” untuk berangkat demi menyelamatkan kerajaan Dharmasraya dari amuk dan pembunuhan biadab pasukan Majapahit, tetapi perempuan atau anak buah raja apakah punya hak untuk “memilih”, sebagaimana Siti Nurbaya masih punya hak untuk “memilih”.
Sesungguhnya, ia masih punya, inilah yang dipertimbangkan dalam sastra, karena jati diri, pada sisi yang sederhana, adalah pada kemampuan berkata “tidak” atau “ya”. Ketika “memilih” berkata “tidak” maka ia akan menembusnya dengan nyawa, satria. Sedangkan kata “ya”, ia menembusnya dengan kepengecutan sepanjang hayat dikandung badan. Sepertinya komikal, memang, katakanlah komik Jepang, yang mengandung filsafat Zen.
(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Minggu 30 Desember 2007, Hal. 11. Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada sdr. Fadlillah Malin Sutan Kayo; e-mail: fadlilah@gmail.com)
Ditulis pada Desember 29, 2007 oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
Oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo
03-fadlillah.jpgPada karya sastra, bukan hanya catatan sejarah dan sosiokultural, ditemukan jejak yang memungkinkan orang untuk menemukan pengertian tentang dirinya sebagai manusia. Ilmu sosial atau sejarah hanya sanggup menulis tentang perang dan peristiwa sebuah ekspedisi membawa dua orang putri untuk dipersembahkan kepada rajanya, atau seorang raja mengirim dua orang putri untuk dipersembah kepada seorang raja yang lain tanda persahabatan, sebagai sebuah misal, maka sejarah dan ilmu sosial tidak akan menulis tentang kesedihan dan persoalan kehilangan harga diri sebagai eksistensi, atau persoalan yang tersembunyi dari kepalsuan politik militer. Bagian inilah yang membedakannya karya sastra dengan tulisan sejarah atau antropolog, sastra lebih mempersoalkan hakekat kemanusiaan.
Sejarah, sosiologi, antropologi meletakan realitas pada posisi “dipilih”, yakni; jadi obyek, bukan “memilih”, jadi subyek. Adapun yang membedakan dengan sastra adalah kerena sastra meletakan realitas sebagai subyek, “memilih”. Ada hal asasi dari kehendak untuk memilih dari manusia yang dipertimbangkan, sedangkan sejarah, sosiologi, antropologi tidak akan melakukan itu, mereka dunia adalah dunia obyektif yang dingin. Mungkin inilah menyebabkan sastra lebih banyak meletakan realitas pada metafora.
Siti Nurbaya sebagai metafor, sama dengan Sabai Nan Aluih dan Dara Jingga, ketika akan “memilih” menerima atau tidak lamaran Datuk Maringgih. Siti Nurbaya mau berkorban untuk keselamatan ayahnya supaya jangan sampai sang ayah masuk penjara, maka “dia memilih” untuk menerima lamaran Datuk Maringgih. Bukan tidak mungkin posisi Dara Jingga “memilih” untuk berangkat demi menyelamatkan kerajaan Dharmasraya dari amuk dan pembunuhan biadab pasukan Majapahit, tetapi perempuan atau anak buah raja apakah punya hak untuk “memilih”, sebagaimana Siti Nurbaya masih punya hak untuk “memilih”.
Sesungguhnya, ia masih punya, inilah yang dipertimbangkan dalam sastra, karena jati diri, pada sisi yang sederhana, adalah pada kemampuan berkata “tidak” atau “ya”. Ketika “memilih” berkata “tidak” maka ia akan menembusnya dengan nyawa, satria. Sedangkan kata “ya”, ia menembusnya dengan kepengecutan sepanjang hayat dikandung badan. Sepertinya komikal, memang, katakanlah komik Jepang, yang mengandung filsafat Zen.
(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Minggu 30 Desember 2007, Hal. 11. Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada sdr. Fadlillah Malin Sutan Kayo; e-mail: fadlilah@gmail.com)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
About Me
- Unknown
0 komentar: